Selasa, 04 September 2007

dari jurnal pendidikan

artikel dari http://www.depdiknas.go.id
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.034 - Januari 2002
Editorial
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan edisi 034 ini difokuskan pada pembahasan konsep broad-based education dan high-based education yang dilontarkan Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar beberapa waktu yang lalu dan menjadi wacana publik. Broad-based education merupakan konsep pendidikan yang berorientasi pada life skills (keterampilan hidup), dan diharapkan dapat membantu masyarakat luas yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. High-based education merupakan konsep pendidikan yang berorientasi pada mutu dan persaingan global. Sistem high-based education ini diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi masyarakat yang dapat melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.Delapan artikel yang membahas kedua konsep pendidikan tersebut baik secara spesifik maupun secara umum disajikan dalam jurnal edisi ini. Topik-topik dari artikel-artiekl itu meliputi pendidikan bermutu dengan pendekatan broad-based education dan high-based education, implementasi life skills dalam konteks pendidikan sekolah, pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat dalam pembelajaran sains di sekolah, evaluasi proses pembelajaran sebagai kontrol kualitas di pendidikan tinggi, quality assurance dalam sistem pendidikan tinggi, penerapan konsep life skills dengan menggunakan pendekatan quantum learning dalam pendidikan jurnalistik, peranan pendidikan tinggi jarak jauh dalam rangka mewujudkan knowledge based society, dan konsep dan metode pembelajaran orang dewasa.Paradigma baru pendidikan bermutu berdasarkan sistem broad-based education dan sistem high-based education dalam menghadapi tantangan pada abad 21 ini disampaikan oleh oleh Mangatas Tampubolon, dosen FIP Universitas Negeri Medan. Menurutnya, mutu sumber daya manusia (SDM) merupakan hal yang paling penting. Hanya bangsa yang memiliki SDM yang unggullah yang akan memenangkan kompetisi global dan memiliki paspor untuk survive di masa mendatang. Paradigma baru sistem pendidikan bermutu yang mengacu pada sistem broad based education yang berorientasi pada peningkatan life skills masyarakat dan sistem high based education untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi sudah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan dan perlu menjadi skala prioritas pembangunan.Djam’an Satori, profesor di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, membahas implementasi life skills dalam konteks pendidikan di sekolah. Dalam wacana pengembangan kurikulum, life skills merupakan salah satu fokus analisis penting yang selalu dikaji dalam isu relevansi fungsi sosial dan masalah kehidupan kontemporer yang berkembang di masyarakat. Tema life skills memiliki makna yang lebih luas dari employability atau vocational skills. Dilihat dari pendekatan manajemen pendidikan, implementasi life skills hendaknya difahami dalam konteks school-based management, community-based education dan broad-based education. Implementasi life skills sepatutnya menjiwai kurikulum semua jenjang dan jenis sekolah. Namun demikian, Djam’an Satori menegaskan, dengan memperhatikan misi kelembagaan dan permasalahan yang dihadapinya, implementasi life skills di SLTP dan SMU perlu menjadi prioritas.Berkaitan dengan sistem broad-based education dan sistem high-based education, La Maronta Galib –dosen di FKIP Universitas Haluoelo Kendari-- mengusulkan penerapan Program/Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) dalam pendidikan sains di sekolah. Asumsinya, sains dan teknologi berkaitan sangat erat dan hasil-hasilnya telah memasuki seluruh aspek kehidupan manusia. Sains dan teknologi juga harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan agar siswa menjadi warga negara dan warga masyarakat yang melek dan sadar sains dan teknologi sejak dini. Program/Pendekatan STM adalah belajar-mengajarkan sains dan teknologi dalam konteks pengalaman dan kehidupan manusia sehari-hari, dengan fokus isu-isu/masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat, baik bersifat lokal, regional, nasional, maupun global yang memiliki komponen sains dan teknologi. Pendekatan ini sangat cocok untuk pembelajaran sains yang menekankan pada multi-dimensi hasil belajar siswa (seperti penguasaan konsep, proses sains, kreativitas, sikap, penerapan, nilai-nilai, dan keterkaitan).Dalam upaya meningkatkan mutu proses pembelajaran di perguruan tinggi, Sasmoko –dosen di Program Parcasarjana UKI Jakarta— mengusulkan evaluasi mutu proses pembelajaran sebagai kontrol kualitas di lembaga pendidikan yang otonom. Dalam otonomi pendidikan, lembaga pendidikan tidak hanya memerlukan informasi dan berusaha memacu kualitas hasil pembelajaran, namun yang lebih penting adalah mengendalikan kualitas proses pembelajaran. Apalagi dengan berlakunya multiple curriculum di Indonesia. Jika disertai dengan pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran, maka akan ada kecenderungan yang baik dalam meningkatkan kinerja lembaga pendidikan yang otonom. Untuk itu evaluasi proses pembelajaran harus dimasukkan sebagai salah satu komponen dalam evaluasi kurikulum. Tahap evaluasi proses pembelajaran meliputi: penentuan tujuan evaluasi, disain evaluasi, pengembangan instrumen, kalibrasi instrumen evaluasi proses pembelajaran, pengumpulan data, analisis data, interpretasi data, dan tindak lanjut hasil evaluasi. Fungsi lain evaluasi ini adalah untuk tindakan manajerial pimpinan pendidikan dalam mengatasi kecenderungan kualitas proses dan hasil secara lebih terpadu.Masih berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan tinggi, Sri Soejatminah Ekroman –staff Biro Perencanaan Setjen Depdiknas— mengusulkan adanya quality assurance dalam sistem pendidikan tinggi. Ia mensinyalir bahwa sistem akreditasi program studi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan sistim pengawasan yang dilakukan oleh Inspektorat Jenederal (Itjen), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang memfokuskan pada pengawasan fungsional, terasa kurang tepat untuk dijadikan jaminan bahwa perguruan tinggi sudah memberikan pendidikan yang bermutu bagi mahasiswanya. Sejalan dengan makin meningkatnya tuntutan akuntabilitas perguruan tinggi dalam era otonomi di perguruan tinggi, kebutuhan masyarakat luas untuk mengetahui seberapa besar mutu yang sudah dicapai oleh perguruan tinggi meningkat. Selain itu, pengaruh globalisasi tidak dapat mencegah timbulnya orientasi internasional pada perguruan tinggi sehingga cepat atau lambat kebutuhan akan mekanisme yang komprehensif mengenai quality assurance harus dipenuhi. Hal-hal tersebut dapat dipandang sebagai faktor pendorong yang kuat bagi perlunya mekanisme atau sistim yang efektif dan transparan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu.Penerapan konsep life skills dengan menggunakan pendekatan quantum learning dalam pendidikan jurnalistik dibahas Septiawan Santana Kurnia, dosen di FIKOM UNISBA Bandung. Menurutnya, pembelajaran life skills ialah proses pendidikan yang melatih individu-belajar agar memiliki kapasitas sosial tanpa jenjang pendidikan yang berkelanjutan. Orientasi pembelajaran life skills dikembangkan melalui metode pengajaran quantum learning yaitu pengondisian proses belajar aktif hingga siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan tertentu serta potensi bagi pengembangan keterampilan lebih lanjut. Kompetensi kewartawanan dirujuk sebagai materi pembelajaran. Metode quantum learning berkaitan dengan model pembelajaran life skills bagi siswa-siswa jurnalistik yang siap bekerja dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya di industri media. Model pembelajaran ini bersifar terbuka bagi lulusan SLTA ataupun universitas.Rusfidra, dosen di FMIPA Universitas Terbuka, mengelaborasi peranan pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ) dalam rangka mewujudkan knowledge based society (masyarakat berbasis pengetahuan). Ia berpendapatan bahwa pendidikan merupakan salah satu prasyarat utama untuk membangun knowledge based society. Metode penyampaian materi ajar di pendidikan tinggi ada dua yaitu model pendidikan tinggi tatap muka (konvensional) dan jarak jauh (PTJJ). Ciri utama PTJJ adalah adanya keterpisahan antara dosen dengan mahasiswa serta peranan penting media pendidikan. Selanjutnya diuraikan gambaran sistem pendidikan jarak jauh ditinjau dari aspek perkembangan konsep pendidikan jarak jauh, keunggulan dan kelemahanya, penerapan PTJJ di Indonesia dengan bercermin pada pengalaman Universitas Terbuka serta potensi dan tantangan penerapan pendidikan jarak jauh sebagai sebuah upaya pemerataan kesempatan belajar di pendidikan tinggi.Konsep dan metode pembelajaran orang dewasa disampaikan oleh Asmin, dosen di Universitas Negeri Medan. Membelajarkan orang dewasa melalui pendidikan orang dewasa harus dilakukan dengan metode dan strategi yang sesuai yang disebut dengan metode andragogi. Orang dewasa sebagai siswa dalam kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah tradisional. Harus dipahami bahwa orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian atau pengarahan diri sendiri.Selamat membaca.Abbas Ghozali

1 Komentar:

Pada 6 November 2012 19.35 , Blogger uii profile mengatakan...

saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
Artikel yang sangat menarik, bisa buat referensi ini ..
terimakasih ya infonya :)

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda