Selasa, 04 September 2007

teologi kerja

artikel diambil dari: http://indipt.org (Saturday, 03 March 2007)

Teologi Kerja dan Kebangkitan Petani
Oleh Drs. H. Bambang Sucipto, M.Pd.I
Pengantar Redaksi
Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan oleh Drs. H. Bambang Sucipto, M.pdI, Ketua STAINU Kebumen dan Kepala Depag Pemkab Kebumen, dalam acara Pelatihan Mengenalkan Pertanian Organik yang dilaksanakan oleh INDIPT Bersma dengan Komunitas Beriman Kebumen, 2-3 Maret 2007. Tulisan berkait bisa di klik disini dan disini.PendahuluanSebenarnya penulis merasa kesulitan ketika panitia meminta pada diri saya untuk berbicara tentang tema Peran Agama dalam Pengembangan Pertanian Berbasis Non Kimia. Dalam benak penulis tema tersebut terasa asing sekali karena merupakan wacana yang belum banyak dikaji orang.Namun kita harus akui bahwa tema tersebut merupakan sesuatu yang sangat menarik dan positif bagi pengembangan dan kemajuan dunia pertanian pada khususnya. Apabila dibandingkan dengan kajian-kajian keislaman yang baru seperti: Ekonomi Islam, Politik Islam, Per-Bank-an Islam, Gender dalam Islam, Demokrasi dalam Islam dsb tema relasi agama dan pertanian pada dasarnya tidak jauh berbeda epistemologi keilmuanya. Perbedanya hanya pada segi ontologinya saja. Kini dalam perkembanganya agama telah banyak dijadikan cara pandang sesuatu objek yang fenomenal dan kemudian menjadi disiplin ilmu sendiri seperti halnya tema tema diatas. Mudah-mudahan ”Agama dan Pertanian ” juga akan menyusul sebagai disiplin ilmu yang formal sehingga dapat melengkapai khasanah kajian keislaman kontemporer. Barangkali tidak hanya dalam perspektif Agama Islam tapi juga kajian agama lain seperti Katolik, Protestan, Hindu, Buda dsb.Agama dan pertanian pada dasarnya merupakan bagian dari tema besar ”ekonomi agama”. Untuk itu teori keilmuan yang saya bangun lewat tulisan ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari teori ekonomi agama yang telah banyak dilakukan studi penelitian kualitatif seperti yang dilakukan Mark Weber, Cliford Geert, obert Bellah, Irfan Abdulah, Hasan Saad dll.Melalui diskusi wacana agama dan pertanian ini diharapkan akan menggugah kesadaran baru para intelektual yang hadir pada kesempatan ini untuk mengkaji lebih serius pengembangan pertanian berbasis non kimia sehingga dapat mendongkrak perubahan masa depan pertanian kearah yang lebih konstruktif dan menjanjikan .Problematika-Problematika PertanianProblematika TeknisKita tahu bahwa kondisi pertanian di Indonesia sampai saat ini dalam kondisi mengenaskan antara hidup dan mati. Hal ini disebabkan tantangan berat dunia pertanian yang dihadapkan pada problematika teknis dunia pertanian seperti rendahnya SDM, ketidak seimbangan antara biaya produksi tanam dengan hasil panen, tidak terjangkaunya harga pupuk, rendahnya harga gabah pada saat musim panen, lahirnya teknologi alat pertanian yang baru dan mahal yang berdampak pengangguran buruh tani, faktor geografis yang tandus dan kering, pengairan tidak merata faktor lainya. Dari faktor yang ada menjadikan petani menagis dan menjerit. Akhirnya banyak yang berpaling pada dunia usaha lain seperti merantau, berdagang, penjual jasa dll. Bahkan pada umumnya orang memandang pertanian sebagai sesuatu yang suram, sebelah mata dan sulit untuk dikembangkan.Untuk melihat betapa sulitnya dan beratnya dunia pertanian kita penulis contohkan kejadian petani pesisir Kebumen pada musim tanam ini yang harus harus bertempur dengan alam yang tidak bersahabat baik karena tanah yang tandus dan irigasi yang tidak sampai kesana. Para petani mencari solusi dengan teknologi sederhana yakni membeli air dari mata air sumur yang menggunakan mesin sedot dengan biaya yang tinggi 100 ubin berkisar Rp.80.000 s/d Rp.100.000 sampai panen untuk mengairi lahan pertanian yang kering dan tandus karena tidak pernah mendapatkan irigasi. Seandainya mereka panen hasil pertanian pun tidak sebagus petani yang menggunakan irigasi waduk. Kegagalan panen bagi petani padi di daerah pesisir adalah sesuatu yang sudah biasa terjadi. Tantangan lain selain sulitnya pengairan adalah munculnya hama tikus, wereng, walang dsb yang senantiasa mengancam kegagalan panen.Problematika PolitikPetani pada umumnya termarginalkan oleh kebijakan negara. Dalam teori konflik keterbelakangan mereka karena disebabkan oleh distribusi keadilan negara yang tidak seimbang. Hal inilah yang mengakibatkan kemiskinan struktural yang harus dialami oleh petani di Indonesia. Kendati indonesia dikenal sebagai negara agraris yang mayoritas penduduknya adalah petani tetapi dalam realitasnya negara hak hak politik petani terpasung oleh sistem politik yang diskriminatif dan mengantarkan pada sangkar besi atau bagaikan kodok dalam tempurung. Mereka bertarung dengan problematika kehidupan dalam suasana yang keras, panas dan tandus tanpa ada bantuan dari negara. Padahal kalau kita lihat secara jujur jasa petani terhadap negara adalah sangat besar. Kita bisa lihat bagaimana petani berjuang membela tanah air pada masa penjajah.Sebagai ilustrasi bahwa petani adalah bagian dari bangsa yang telah banyak berjasa pada negara (pahlawan sejati) kita bisa tengok jauh kebelakang bahwa sejarah politik mencatat, tidak akan terjadi Kemerdekaan RI seperti ini apabila dulu tidak ada para petani yang berjuang secara tulus dan ihlas. Siapa yang harus bertanggungjawab secara logistik dalam peperangan melawan penjajah ?. Kelompok masyarakat mana yang paling tertindas dan dalam masa penjajahan ?. Pada masa kolonial penindasan terhadap petani terjadi luar biasa mereka dipaksa untuk tanam paksa, kerja rodi dll. Sejarah juga membuktikan bahwa korban perang yang terbesar adalah dari kaum petani yang notabene rakyat jelata yang lemah dan tidak bersenjata. Darah, nyawa, harta semua dipertaruhkan melayang demi kemerdekaan RI. Pada saat penjajah menyerang mereka mau tidak mau akan menjadi tumbal pertama karena tidak memiliki kesempatan untuk berlari atau mengumpat seperti pahlawan yang lain yang menggunakan sarana tempur lengkap. Tidak ada lain demi mempertahankan sejengkal tanah agar tidak dikuasai para penjajah.Pada masa pemerintahan orde lama sampai orde pasca reformasi petani juga tidak pernah diberi ruang ataupun hadiah dalam berjuang untuk kemerdekaan. Dengan ihlas mereka kembali kedesa desa dan pegunungan melakukan pembangunan secara nyata tanpa mau berebut konflik dalam kekuasan sesama anak bangsa. Sebagai konsekuensinya mereka akhirnya hanya dijadikan alat dan obyek politik seperti pada saat pemilu. Pemilu selesaipun mereka dibiarkan kembali tertindas oleh struktur politik, sosial, sistem ekonomi yang kapital maupun sistem budaya dan gaya hidup. Dari ketidakmampuanya melawan struktur menjadikan nasib petani sebagai komunitas marjinal, terbelakang, tidak berpendidikan dan basis komunitas kemiskinan.Problematika GlobalSadar atau tidak sadar, setuju atau tidak setuju sekarang ini pertanian berada ditengah tengah proses arus globalisasi yang berdampak pada perubahan sosial diberbagai sendi kehidupan. Sistem globalisasi telah merubah sistem sosial yang pada awalnya berbasis pasar lokal, regional dan nasional menjadi pasar global. Demikian pula dengan nilai nilai agama dan etika yang sebelumnya menjadi pedoman hidup akan digantikan dengan nilai estetika (keindahan). Pola hidup akan digantikan dengan gaya hidup. Batas-batas budaya yang pada awalnya kental dengan ikatan adat istiadat, sentimen agama, etnis akan digantikan dengan ikatan ekonomi sebagai parameter sosial.Sebagai akibatnya dari itu semua akan menciptakan sistem sosial baru yang terbuka, rasional dan ekonomis serta hedonis. Pengaruh hegemoni globalisasi yang kuat dimungkinkan akan memunculkan gerakan tandingan dalam berbagai bentuk misalkan paham lokal, sosialis dsb. Pertanian sebagai sub sistem ekonomi yang berbasis pedesaan juga akan dihadapkan pada sistem global. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab sektor pertanian adalah bagaimana upaya kongkrit dalam merevitalisasi pertanian sehingga mampu menghegemoni dunia pasar sebagai kekuatan dominan.Nilai Nilai Agama Sebagai Spirit PerubahanNilai nilai agama dalam kehidupan sosial masyarakat terbukti memiliki pengaruh dalam menentukan sikap, namun hal ini akan tergantung bagaimana nilai nilai agama dikonstruksi dalam kehidupan sosial dan masyarakat. Manifestasi nilai nilai agama dapat mendorong masyarakat kearah rasionalisasi ekonomi. Peran peran agama dalam memajukan perubahan ekonomi masyarakat dapat dilihat dari hasil riset: misalkan kemajuan industrialisasi Jepang didorong dan dipengaruhi Agama Tokogawa yang dianut mayoritas warga Jepang. Melalui taransformasi nilai nilai Agama Tokogawa masyarakat Jepang yang tadinya bercocok tanam disuatu alam yang tidak memungkinkan akhirnya berpindah keusaha dagang dan berhasil menjadi kelompok menengah. Munculnya abad renaisance sangat dipengaruhi etika Protestan dibarat. (Baca Religi Tokogawa Karya Robert Bellah 1992) Melalui motivasi religius Agama Budha, ajaran konfusian masyarakat Korea telah berhasil beralih ke usaha dagang dengan rujukan semangat Budhisattva dalam berdagang dan meciptakan barang-barang yang dianggap sebagai tindakan yang mulia dan dapat menyelamatkan orang. Hal yang sama juga terdapat dalam agama Protestan yang seperti yang ditulis Max Weber dalam The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism. Weber menyimpulkan bahwa semangat dan munculnya capitalisme menunjukan adanya hubungan erat antara nilai nilai ajaran agama dengan pengaruh perilaku ekonomi masyarakat tertentu. Dalam Islam teori berdagang Nabi Muhamad secara ekspansi keluar negeri juga banyak mengilhami semangat kaum muslim untuk berdagang meniru Rasulnya.Dari contoh diatas menunjukan pengaruh kuat nilai nilai agama kepada masyarakat. Namun demikian bukan berarti berdagang adalah merupakan satu satunya usaha yang memiliki katerkaitan nilai agama. Contoh diatas hanya secara kebetulan yang banyak diteliti dalam riset. Hubngan antara agama dan petani pada suatu daerah tertentu belum banyak dilakukan penelitian sehingga hasilnya belum dapat diketahui. Menurut tesis Weber bahwa kata kunci untuk memperoleh perubahan adalah harus dimulai dengan kesadaran rasionalitas dan etos kerja masyarakat, karena hal tersebut akan menjadi pencapaian utama dalam usaha. Bercermin dari itu, bagaimana halnya dengan masyarak petani kita ..? Apakah sudah bertindak secara rasional dan menjadikan agama sebagai spirit religiusitas dalam etos kerja dan kerja dijadikan panggilan agama. Atau malah sebaliknya petani kita berada dalam posisi tidak rasional dan memiliki semangat yang rendah. Menurut hemat penulis petani kita terkena gejala teologi fatalis. Hal ini karena banyak dipengaruhi nilai nilai budaya jawa seperti sikap pasrah total dan dresula terhadap sesuatu yang apabila tidak tercapai tanpa mencari solusi.Menurut hasil statistik ekonomi sampai saat ini Kebumen tetap digolongkan kedalam daerah yang miskin bahkan pernah menempati urutan ke 5 daerah termiskin di Propinsi Jawa Tengah. Hasil studi terhadap Kebumen menyimpulkan Kebumen sebagai daerah yang stagnan/statis. Fatak menunjukan semenjak dulu tingkat ekonomi kita tidak ada perubahan secara signifikan. Menurut hemat penulis hal ini diantaranya disebabkan oleh faktor dimana mayoritas penduduk Kebumen adalah agraris dan pertanian sebagai pilar utama ekonomi Kebumen. Ideologi masyarakatnya dipengaruhi nilai nilai budaya jawa seperti pasrah, nrimo ing pandum, mangan ora mangan kumpul. Pola tindakan mereka dalam usaha pertanian juga masih banyak menggunakan pendekatan mistis. Padahal kalau kita mau merunut pada nilai nilai Islam, seharusnya lebih berjiwa progresif atau ihtiar yang kuat dengan dilandasi ibadah. Iman dan IPTEKMunculnya berbagai macam teknologi pertanian yang merubah pola sistem pertanian kita ternyata belum menjadi solusi problem dasar pertanian. Bahkan disatu sisi malah teknologi berdampak negatif seperti menyempitnya lapangan kerja akibat digantikanya tenaga manusia dengan mesin dan akhirnya memperluas kemiskinan. Hadirnya traktor menjdikan lapangan kerja mencangkul bagi laki laki hilang. Sistem ani ani yang tadinya menciptakan kerja bagi banyak perempuan menjadi hilang setelah diganti dengan mesin rontok padi. Demikian pula dengan produksi pupuk, petani tidak pernah berfikir dampak secara jangka panjang penggunaan zat kimia bagi kesuburan tanah dan dampak kesehatan manusia. Terlepas dari itu semua bukan berarti kita secara serta merta menolok teknologi pertanian. Petani tetap memerlukan teknologi namun yang yang ramah terhadap lingkungan, kesehatan, sosial dan tidak bertentangan dengan nilai nilai budaya dan agama.Dibandingkan dengan sektor lain seperti industri, dunia pertanian banyak mengalami ketertinggalan. Kita bisa melihat bagaimana produktivitas industri mengalami kemajuan sangat pesat seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi serta sistem pasar global. Sementara itu pertanian terisolasi oleh nilai nilai budaya lokal yang cenderung konservatif dan menghambat kemajuan.Dalam konteks persaingan global seperti ini, teknologi pertanian sangat memiliki peran vital. Proses reka yasa Teknologi dalam dunia pertanian harus banyak diproduktivitas sehingga dapat memberikan keseimbangan dengan industri. Untuk itu masyarakat petani harus terbuka menerima hasil pengembangan teknologi yang dapat diterapkan dalam efektivitas dan efisiensi produktifitas serta hasil yang maksimal.Agama dan teknologi memeliki peranan yang besar dalam mendorong terjadinya transforamsi dunia pertanian. Teknologi pertanian pada dasarnya merupakan wilayah ilmu pengetahuan atau sains modern sedangkan agama menempati wilayah keimanan. Pertarungan ilmu pengetahuan dengan iman dalam kaca mata positivistik dimenangkan oleh ilmu pengetahuan dengan sekutunya teknologi. Agama sebagai wilayah moral mengalami banyak kerepotan apabila harus mensikapi produk produk kemajuan ilmu pengetahuan melalui sains modern. Munculnya fiqih kontemporer, fiqih lingkungan, fiqih bio medis, biotika dll adalah merupakan upaya mensinkronkan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Seharusnya antara ilmu pengetahuan dan agama tidak didudukan secara dikotomis melainkan harus sejajar. Imu pengetahuan dengan iman adalah mimiliki hubungan persahabatan (senyawa) yang saling interaksi menguatkan. Iman kuat maka ilmu pengetahuan juga kuat. Demikian pul sebaliknya apabila tidak seimbang akan menjadikan kelumpuhan atau kebutanan bagi petani. Kiranya sangat tepat kalau keduanya dianalogikan bagaikan hubungan dua mata sisi uang yang tidak dapat dipisahkan.PenutupSelamat Mengikuti Pelatihan Mengenal Organik bagi Kesehatan Masyarakat.Semoga Alloh senantiasa memberikan petunjuk dan pencerahan kepada hambanya yang senantiasa beraktifitas dan berada dijalan yang benar.
---------------------
Disampaikan dalam Pelatihan Mengenal Pertanian Organik Bagi Kesehatan Masyarakat, yang dilaksanakan oleh INDIPT bersama Komunitas Sahabat Beriman Kebumen tanggal 2 -3 Maret 2007, di kampus STAINU Kebumen.Ketua STAINU Kebumen dan Kepala Kantor Depag Kebumen.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda