Selasa, 04 September 2007

jurnalistik

Quantum Learning bagi Pendidikan Jurnalistik
Studi pembelajaran jurnalistik yang berorientasi pada life skill
Oleh Septiawan Santana Kurnia, Pengajar urnalistik di FIKOM UNISBA
[artikel koleksi ali romdhoni dari http://www.depdiknas.go.id/]
Abstrak: Orientasi pembelajaran life skills kini menjadi dimensi penting proses pendidikan di Indonesia. Pembelajaran life skills ialah proses pendidikan yang melatih individu-belajar agar memiliki kapasitas sosial tanpa jenjang pendidikan yang berkelanjutan. Studi ini mengusulkan wacana life skills bagi pendidikan jurnalistik yang selama ini proses pembelajarannya dikritik. Banyak wartawan berasal dari lulusan nonjurnalistik. Banyak wartawan lulusan SLTA yang tidak memahami jurnalisme walaupun telah dilatih beberapa lama. Orientasi pembelajaran life skills dikembangkan melalui metode pengajaran quantum learning yaitu pengondisian proses belajar aktif hingga siswa memiliki knowledge dan skills (pengetahuan dan keterampilan) tertentu serta potensi bagi pengembangan skills lebih lanjut. Kompetensi kewartawanan dirujuk sebagai materi pembelajaran. Metode quantum learning berkaitan dengan model pembelajaran life skills bagi siswa-siswa jurnalistik yang siap bekerja dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya di industri media. Model pembelajaran ini bersifar terbuka bagi lulusan SLTA ataupun universitas.Kata Kunci: life Skills, quantum learning, kompetensi profesi jurnalistik, kapasitas sosial.1. Pendahuluan1.1. Latar BelakangJohn Irby (2001), profesor jurnalistik di Washington State University, memberikan pernyataan yang menarik ketika membahas ketidakrelevanan pendidikan jurnalistik dari realitas pekerjaan jurnalisme. Para jurnalis harus sungguh-sungguh memikirkan soal training jurnalistik. "Mereka harus mendapatkan pelatihan," tegasnya. Para pendidik jurnalistik harus mere-evaluasi, dan memodifikasi pendekatan pendidikan jurnalistik yang dilakukannya selama ini.Berbagai pelatihan jurnalisme yang diselenggarakan selama ini memang menampilkan berbagai topik yang menarik. Semuanya memberikan hal-hal penting yang dibutuhkan jurnalisme saat ini, seperti pelatihan menulis, penggunaan komputer dalam peliputan, berbagai etika jurnalistik, desain surat kabar, cara membuat pelaporan yang mendalam, kredibel, bermutu, kebebasan pers, serta pendidikan jurnalistik lainnya.Hal ini bisa disimak melalui model pelatihan dari The Columbia Publishing Course's. Para siswanya, seusai mengikuti pelatihan, telah menyebar bekerja di berbagai tempat, dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Mereka rata-rata memiliki ciri individu jurnalisme yang mencintai buku-buku, selalu bersemangat untuk belajar, sangat menghargai pekerjaan menulis, dan selalu bersentuhan dengan wacana aktual masyarakat.Melalui program pelatihan jurnalistik selama enam minggu, para siswanya diajak terlibat dalam proses simulatif dari kegiatan memproduksi media cetak. Dari sejak dini, pelatihan telah mengarahkan belajar masing-masing siswa dengan pilihan karir yang akan ditekuninya kelak, sesuai dengan resume minat yang mereka aplikasikan. Di dalam pelatihan, para siswa telah disimulasikan ke dalam model pembelajaran aplikatif dari kegiatan penerbitan media cetak.Mereka juga diajak untuk mengenali talenta dan energi diri sendiri. Para siswa ditarik ke dalam suasana pembelajaran yang mencintai literatur dan bahasa, dunia penerbitan, menyenangkannya berada dalam proses industri media, menjadi individu yang well informed, dan entertains. Mereka telah diarahkan untuk berkarir di bidang penerbitan media secara alami, yakni memadukan minat personal dengan sikap positif seorang profesional. Pelatihan jurnalisme di Columbia Publishing Course memberi peralatan dan pembelajaran tentang seluk beluk penting dunia publishing, para profesional top penerbitan, catatan-catatan pengalaman mereka, perbandingan tipe-tipe penerbitan.1.2. Perumusan MasalahDi dalam pendidikan jurnalistik Indonesia, masih dibutuhkan upaya menangani pembelajaran jurnalistik yang bukan saja terkait dengan aspek praksis, akan tetapi juga model pelatihan yang dapat menyiapkan pesertanya memiliki kemampuan dan konfidensi profesi dari jurnalistik itu sendiri. Pelatihan menjadi tidak hanya berkisar pada tujuan untuk melatih komunitas-komunitas yang berminat dan ingin belajar jurnalistik.Pelatihan jurnalistik harus memberikan konsepsi dan kemampuan praksis yang dapat digunakan di dalam kehidupan keseharian dari peserta usai mengikuti pelatihan.Di sisi lain, adalah efek domino dari pelatihan, yakni membuat peserta pelatihan yang tidak memiliki peluang ataupun kemampuan untuk melanjutkan studi atau kursus tertentu, akan tetap dapat memanfaatkan proses belajarnya di dalam pelatihan sebagai sebuah keterampilan yang berguna bagi keseharian hidupnya. Ia memiliki kemampuan untuk berkarya yang dihargai oleh masyarakatnya. Ia memiliki kemampuan life skills yang bisa dikembangkan lebih lanjut di dalam profesi jurnalistik.Untuk mencapai itu, dibutuhkan konsep pelatihan yang dapat membekali siswa sampai ke tingkat pemilikan pengetahuan yang menjadi bagian dari dirinya sendiri. Peserta diajak terlibat secara kognitif, afektif, dan konatif. Ia bukan hanya menjadi pengoleksi pemahaman, tapi juga merasa mendapatkan sesuatu yang berharga dan tak mungkin lepas dalam hidupnya, serta berkeingingan untuk dipraktikkan dalam hidup kesehariannya.Quantum learning adalah model pembelajaran yang hendak membekali siswa dengan target seperti itu. Melalui teknik dan metoda belajar yang bersuasana persuasif, quantum learning mempola kognisi, afektif, dan konatif peserta didik agar terlibat dalam proses belajar aktif.Dengan berlatar pemikiran penciptaan konsep pembelajaran yang dapat menumbuhkan orientasi life skills, studi ini coba memaparkan proses pembelajaran bermetoda quantum learning bagi pelulusan peserta didik jurnalistik. Orientasi kapasitas life skills dikaitkan dengan penciptaan model belajar bagi sebuah pelatihan. Dengan kisaran waktu belajar bulanan, model pembelajaran ini terbuka bagi peserta didik tanpa mengenal strata jenjang pendidikan.Orientasi pembelajarannya mengikuti alur konsep pengajaran life skills yang meliputi materi-materi kecakapan berpikir, kecakapan individu, kecakapan soial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional. Fokus akhirnya terletak pada pemberian kecakapan vokasional. Peserta didik, setelah mengikuti model pembelajaran quantum learning, diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mampu bekerja dan berusaha secara mandiri.Konsep pembelajarannya mengembangkan keterampilan dasar seperti keterampilan verbal (membaca, menulis, mendengarkan, dan bercerita atau mengungkapkan gagasan), keterampilan menganalisis (kemampuan menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya), dan keterampilan analogi .1.3. TujuanBanyaknya berdiri lembaga pendidikan jurnalistik selama ini tampaknya hanya mampu menjawab kebutuhan akan kuantifikasi lulusan sarjana bagi masyarakat. Akan tetapi, belum dapat menyentuh esensi dari pendidikan yang membekali siswa pengetahuan dan keterampilan bagi hidupnya selepas ia lulus dan terjun ke masyarakat. Peningkatan jumlah wartawan sendiri bagi kehidupan pers, selepas reformasi politik berlangsung masih dikendalai oleh ketidakmampuan pekerja pers dalam melaksanakan kerja di profesi jurnalistik. Berbagai mutu pelaporan pers masih dinilai banyak yang tidak profesional.Sementara itu, di kalangan masyarakat kerap diadakan upaya-upaya membuat pelatihan jurnalistik. Modus pembelajarannya hanya sampai tingkat workshop, pelatihan yang hanya memberi ruang pemahaman simulatif. Para pengajarnya masih memakai teknik dan metoda didaktif yang menyampaikan pengetahuan teknis kejurnalistikan. Belum mencapai tingkat pembelajaran yang mampu mengajak keterlibatan siswa dari tahap koginitif, afektif, dan konatif.Dengan pemikiran tentang model pembelajaran quantum learning ini, diharapkan dapat mengisi lemahnya pendidikan jurnalistik di perguruan tinggi dalam mengatasi kebutuhan masyarakat. Di samping itu, memberi alternatif model pembelajaran melalui pelatihan yang lebih tertuju kepada target pembekalan pengetahuan dan keterampilan yang bersifat life skills.Studi ini dilakukan berdasarkan pemikiran tentang perlunya dibuat model pembelajaran yang lebih melibatkan keaktifan peserta dalam pelatihan jurnalistik. Di sisi lain, dalam rangka mencoba menelusuri kemungkinan model pembelajaran melalui pelatihan yang dapat membekali peserta didik di tatatan life skills. Bukan hanya membuat modus pelatihan yang berhenti saat usai pembelajaran. Tujuan lain ialah mencoba membuat modus pelatihan yang dapat mengisi kekosongan model pembelajaran yang tidak mampu diikuti oleh masyarakat bergolongan sosial-ekonomi rendah.Pada titik ini, siswa setingkat umur SLTA diharapkan mendapat kelengkapan hasil belajar. Mereka bukan hanya mengoleksi pengetahuan akan tetapi juga memiliki keterampilan jurnalistik. Di samping itu, mereka dapat mengembangkan potensi kejurnalistikannya untuk bidang-bidang kerja yang lain. Hal ini terkait dengan materi pengajaran jurnalistik yang tidak sekadar berorientasi kepada kegiatan kewartawanan. Jurnalistik adalah bidang keilmuan yang bersentuhan dengan kompleksitas kepentingan masyarakat, khususnya dalam bidang komunikasi sosial. Segala aspek komunikasi kemasyarakatan dengan demikian terkait dengan jurnalistik. Filsafat jurnalistik yang tertuju kepada kegiatan pelaporan peristiwa kemanusiaan bukan hanya tersangkut dengan pelaporan berita melainkan juga mencakup segala dimensi pelaporan tekstual kemasyarakatan. Skills penulisan misalnya dapat pula dimanfaatkan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas bagi bidang pelaporan administratif, publikasi yang bersifat promosi, atau teks-teks lain yang terkait dengan kebutuhan masyarakat dalam berkomunikasi sosial.Orientasi pencapaian kapasitas siswa yang memiliki potensi life skills memang tidak hanya dikontekskan kepada ruang-ruang pengajaran di sekitar usia belajar setingkat SLTA. Titik beratnya pada ruang pengajaran jurnalistik yang tidak hanya berhenti di ruang kelas. Bagi dunia pers Indonesia, yang masih diindikasikan dengan kapasitas kewartawan yang belum mengetahui dan menguasai seluk beluk pekerjaan jurnalistik secara komprehensif, terkait dengan usulan dasar pemikiran pelatihan jurnalistik yang hendak dipaparkan dalam studi ini.2. Kajian LiteraturKebijakan pendidikan kerap memerikan beberapa tujuan pendidikan. Secara klasik, beberapa tujuan pendidikan itu antara lain merumuskan tujuan realisasi diri (self-realitation) dan perhubungan kemanusiaan (human relationship) serta efisiensi ekonomi (economic efficiency).Tujuannya adalah mendidik siswa agar mampu melakukan tindak realisasi diri, diantaranya: menjadikan mereka untuk tahu pentingnya belajar, mampu berbahasa, membaca, menulis, menghitung, dan mengobservasi. Dalam kaitan tujuan perhubungan kemanusiaan, siswa diharapkan paham akan kegunaan hubungan sosial, dapat bekerja dan adaptif dengan lingkungan sosial, tahu akan fungsi keluarga sebagai unit sosial terkecil, dan mampu berhubungan sosial di dalam sebuah keluarga. Sedangkan tujuan efisiensi ekonomi tertuju kepada siswa yang antara lain: (1) mengetahui arti sebuah pekerjaan yang baik, (2) mengetahui persyaratan dan kesempatan untuk bekerja, (3) mampu menjalani karir kerja yang dipilihnya, dan (4) tahu harga sosial dari pekerjaanya.Oleh karena itu, secara elementer wacana klasik edukasi mengatur metoda dan proses pendidikan seperti teknik tanya-jawab, penuturan pengalaman, memberi petunjuk-petunjuk, membuat pelaporan, atau diskusi informal. Lalu, pemikiran Benyamin S. Bloom dkk (1956) dalam Taxonomy of Educational Objectives pun kerap dikutip untuk memetakan tiga tujuan pendidikan: (1) Cognitive domain (pengetahuan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi), (2) Affective domain (sikap, nilai, minat, dan apresiasi), (3) psycho-motor domain (keterampilan, kemampuan, dan kebiasaan).Tujuan pendidikan itu diantaranya diarahkan kepada pencapaian empat kemampuan dasar belajar yang, menurut Ace Suryadi, adalah sebagai berikut. Pertama, kemampuan verbal, seperti kemampuan memahami gagasan tertulis (reading ability), kemampuan menangkap isi pembicaraan (listening comprehension), dan kemampuan mengungkap gagasan lisan maupun tertulis (verbal expression). Kedua, kemampuan memahami logika angka, bidang, dan ruang – seperti berhitung, mengukur bidang, dan mengukur ruang (mathematical reasoning ability), untuk melatih ketajaman berpikir. Ketiga, kemampuan analitis, yaitu menghubungkan satu gejala dengan gejala lain. Keempat, kemampuan berpikir kritis dan evaluatif, yaitu menyimpulkan dan melakukan evaluasi terhadap permasalahan pada tingkatan yang lebih abstrak, serta mencari solusi.Setiap jenjang pendidikan mengajarkan siswa agar menguasai semua dimensi kemampuan belajar. Pada pendidikan tinggi, muatan kemampuan belajar berubah menjadi kemampuan untuk meneliti dan inovasi sedangkan konten pendidikannya semakin terspesialisasikan.2.1 Life SkillDalam perkembangan masyarakat, wacana pendidikan kerap tak mampu mengikuti akselerasi dinamika masyarakat. Perubahan masyarakat, akibat pelbagai temuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak dapat segera diantisipasi. Lembaga pendidikan tertinggal untuk memberi proses belajar yang relevan.Kompas (30/1/2002) melaporkan tentang kecakapan vokasional yang kurang dihasilkan dari lembaga pendidikan. Melanjutkan permasalahan reformasi sosial-politik Indonesia, dunia pendidikan SLTA menyisakan lulusan sebanyak 60 persen siswanya yang tak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Jumlah itu amat rentan bila dikaitkan dengan ketiadaan kecakapan sosial mereka dalam memasuki kehidupan kemasyarakatan. Untuk mengatasi itu, kini masyarakat dikenalkan dengan konsep pendidikan life skills (LS), serta broad-base education (BBE), school-base quality improvement (SBQI), dan school-base management (SBM). Suryadi menyatakan, "Kita bisa menganggap bahwa broad-base education adalah landasan paradigmanya, life skills substansinya, school-base quality improvement pendekatan pembelajarannya, dan school-base management sebagai bentuk pengelolaannya."Konsep life skills menjadi landasan pokok kurikulum, pembelajaran, dan pengelolaan semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang berbasis masyarakat. Hal ini terkait dengan paradigma broad-base education yang mewacanakan muatan dan pengelolan pendidikan berdasarkan keadaan dan permasalahan masyarakat. Pendidikan menyatu dengan keadaan dan permasalahan masyarakat. Dengan demikian, orientasi life skills menghindari sistem pendidikan yang hanya sebatas formalitas, pembakuan, dan kaku. Gambaran ketidakformalan itu tampaknya bisa dilihat dari model Targeting Life Skills yang dibuat Pat Hendricks, dari Iowa State University, seperti ditunjukkan oleh Gambar 1. Model Hendricks ini dibuat dari konsep pendidikan yang dikembangkan Family Living and 4-H Youth Development ketika melaksanakan program pendidikan anak kapabel, kompeten, dan menghargai masyarakat. Model Targeting Life Skills (TLS) ini terdiri dari 35 faktor kemampuan life skills (LS). Semua faktornya saling terhubung dan terintegrasi. Masing-masing faktor merujuk pada kompetensi individual yang dibutuhkan lingkungan sosialnya.Pihak Washinton State University kePlease do not use illegal software...mudian mengeleminirnya menjadi delapan indikator LS. Kedelapan indikator yang menjadi acuan program pendidikan LS 1999 tersedbut terdiri dari:Decision making (kemampuan membuat keputusan) – membuat pilihan diantara berbagai alternatif, kemampuan membuat daftar pilihan sebelum membuat keputusan, mampu memikirkan akibat dari putusan yang akan diambil, dan mampu mengevaluasi pilihan yang telah dibuat.Wise use of resources (kemampuan memanfaatkan sumber daya) – menggunakan referensi, bermanfaat, punya nilai responsibilitas, berdasarkan prioritas,Mendayagunakan sumber daya yang ada di sekitar dirinya.Memanfaatkan sumber daya finansial sendiri secara terencana.Memanfaatkan pengaturan waktu dengan baik.Berhati-hati dengan personalitas diri.Communication (komunikasi) – kemampuan menyampaikan pendapat, informasi, atau pesan dengan berbagai orang melalui pembicaran, penulisan, gerak tubuh, dan ekspresi yang efektif.Membuat presentasiMendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan orangJelas dalam menyampaikan pendapat, perasaan, atau ide kepada yang lainTidak emosional dalam menjelaskan ketidaksepakatan4. Accepting differences (menerima perbedaan) – kemampuan mengatur dan menerima kesenjangan atau perbedaan dengan pelbagai pihakMenghargai orang yang berbedaBekerja sama dengan orang yang berbedaMenjalin hubungan dengan orang yang berbeda5. Leadership (kepemimpinan) – mampu mempengaruhi dan menjelaskan sesuatu kepada pelbagai pihak di dalam kelompok.Mengatur kelompok kepada tujuan yang telah ditetapkanMenggunakan gaya kepemimpinan yang variatifSaling berbagi dengan yang lain dalam kepemimpinan6. Useful/marketable skills (kemampuan yang marketable) – kemampuan menjadi pekerja dan dibutuhkan oleh lapangan kerjaMemahami permasalahanMengikuti instruksiMemberi kontribusi pada kerja timSiap bertanggung jawab pada tiap tugas yang diberikanMenghindari kesalahan dan mencatat prestasiSiap melamar pekerjaanHealthy lifestyle choices (kemampuan memilih gaya hidup sehat); kemampuan memilih gaya hidup sehat bagi tubuh dan pikiran, menghindari penyakit dan luka-lukaMemilih makanan sehatMemilih aktifitas yang sehat bagi tubuh dan mentalMengatur stress secara positif di dalam kehidupan pribadiMenghindari perilaku beresikoSelf-responsibility (bertanggung jawab pada diri sendiri);mampu menjaga diri; menghargai perilaku diri dan dampaknya; mampu memilih posisi diantara salah dan benarMengerjakan sesuatu yang benar bagi diri sendiri ketika di dalam kelompokSelalu mengingatkan diri akan kesalahan yang bisa dibuatMencoba memahami betul sebelum membuat komitmenMengontrol tindakan diri berdasarkan tujuan/masa depanDari penjelasan tersebut dapat terlihat dimensi khusus dari pendidikan life skills. menurut Syamsul Hadi Thumbany, pendidikan life skills mengorientasikan siswa untuk memiliki kemampuan dan modal dasar agar untuk hidup mandiri dan survive di lingkungannya. Thumbany menilik kegunaan pendidikan life skills bila diterapkan di Indonesia karena muatan kurikulum di Indonesia yang cenderung hanya memperkuat kemampuan teoritis-akademik (academic skills). Pelbagai kebutuhan dan persoalan empirik lingkungan tempat siswa tumbuh kurang diperhatikan. Hal ini menyebabkan siswa tak mampu mengaplikasikan kemampuan belajarnya dengan kebutuhan dan persoalan masyarakatnya. Esensi sekolah sebagai wahana pengembangan kepribadian individu yang cerdas secara intelektual, moral, dan sosial, bahkan, tereduksi menjadi sarana pencari status sosial semata. Karenanya, tidak mengherankan apabila output yang dihasilkan, meskipun terlihat pintar dan menguasai teori, tetapi miskin pengalaman dan kreativitas. Karena itu, ilmu yang dipelajari tidak bisa menghasilkan banyak manfaat, apalagi untuk melakukan perubahan terhadap penyimpangan di masyarakat.Kenyataan itu terjadi pula di dalam dunia pendidikan jurnalistik. Perkembangan industri media kerap tidak mampu diikuti oleh para lulusan jurnalistik baik dari perguruan tinggi maupun sekolah diploma dan kursus-kursus. Laporan Jurnal Media Wacth (edisi 15/Nop-Des 2001) menyebutkan pelanggaran kode etik di dalam pemberitaan media. Walaupun kodifikasi etik jurnalistik, peralatan teknologi jurnalistik, dan pemasukan iklan, telah cukup memodali peralatan pencarian berita, akan tetapi berbagai pelanggaran masih dilakukan. Berbagai pihak kerap menyesalkan kekurangakuratan dan ketidakmampuan wartawan dalam mengolah pemberitaan. Bahkan, reformasi kebebasan pers kini malah dibebani dengan fenomena wartawan "amplop", khususnya di daerah-daerah, dari berbagai media beroplah kecil yang dikelola oleh keredaksian yang kebanyakannya lulusan SLTA atau tidak mengenyam pendidikan jurnalistik secara serius. Hal ini dikarenakan sumber daya manusia di bidang kewartawanan Indonesia yang belum komprehensif pengetahuan dan keterampilan jurnalistiknya. Hal ini disebabkan antara lain, oleh lemahnya kompetensi profesional dari pelaku pers. Lemahnya kompetensi itu diantaranya disebabkan oleh ketidakpekaan lembaga dan pengajar jurnalistik dengan kompleksitas kebutuhan dan persoalan masyarakat.Keadaan itu oleh John Irby (2001) dinyatakan melalui pertanyaan-pertanyaan tentang masih banyaknya pertanyaan yang belum bisa dijawab oleh lembaga pendidikan jurnalistik:Has inferior journalism education contributed to the newspaper industry’s greatest sickness of eroding credibility?Are universities and educators effectively preparing students for the workforce?Do educators have an understanding of what newspapers are looking for in future reporters and editors?Does the newspaper industry have a responsibility in the division between educators and professionals?Are journalism educators "discounted" by professionals who believe those that teach couldn’t succeed in newspapers, as is sometimes suggested?"Karenanya, diperlukan sebuah model pembelajaran yang dapat menjawab permalasahan tersebut.2.2 Quantum LearningQuantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme).Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.Prinsip suggestology hampir mirip dengan proses accelerated learning, pemercepatan belajar: yakni, proses belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Suasana belajar yang efektif diciptakan melalui campuran antara lain unsur-unsur hiburan, permainan, cara berpikir positif, dan emosi yang sehat."Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan posistif – faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang (Bobby De Porter dan Hernacki, 1992)Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai "interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya." Mereka mengamsalkan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc2, mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang "secara fisik adalah materi". "Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya". Pada kaitan inilah, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.Beberapa hal yang penting dicatat dalam quantum learning adalah sebagai berikut. Para siswa dikenali tentang "kekuatan pikiran" yang tak terbatas. Ditegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memerikan bagaimana proses otak itu bekerja. Melalui hasil penelitian Global Learning, dikenalkan bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan "cara yang menyenangkan dan bebas stres". Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan perlu diakhiri dengan "kegembiraan dan tepukan."Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan bagaimana unsur-unsur dan struktur otak manusia bekerja, dibuat model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intarpersonal, dan intuisi. Bagaimana mengembangkan fungsi motor sensorik (melalui kontak langsung dengan lingkungan), sistem emosional-kognitif (melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita), dan kecerdasan yang lebih tinggi (melalui perawatan yang benar dan pengondisian emosional yang sehat). Bagaimana memanfaatkan cara berpikir dua belahan otak "kiri dan kanan". Proses berpikir otak kiri (yang bersifat logis, sekuensial, linear dan rasional), misalnya, dikenakan dengan proses pembelajaran melalui tugas-tugas teratur yang bersifat ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detil dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Proses berpikir otak kanan (yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik), dikenakan dengan proses pembelajaran yang terkait dengan pengetahuan nonverbal (seperti perasaan dan emosi), kesadaran akan perasaan tertentu (merasakan kehadiran orang atau suatu benda), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi.Semua itu, pada akhirnya, tertuju pada proses belajar yang menargetkan tumbuhnya "emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan diri." Keempat unsur ini bila digambarkan saling terkait. Dari kehormatan diri, misalnya, terdorong emosi positif yang mengembangkan kekuatan otak, dan menghasilkan keberhasilan, lalu (balik lagi) kepada penciptaan kehormatan diri.Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: "belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan." Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: "tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan."Dalam kaitan itu pula, antara lain, quantum learning mengonsep tentang "menata pentas: lingkungan belajar yang tepat." Penataan lingkungan ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap positif. Sikap positif merupakan aset penting untuk belajar. Peserta didik quantum dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar demikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar.Penataan lingkungan belajar ini dibagi dua yaitu: lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro ialah tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan berkreasi). Quantum learning menekankan penataan cahaya, musik, dan desain ruang, karena semua itu dinilai mempengaruhi peserta didik dalam menerima, menyerap, dan mengolah informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas quantum learning. Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan di Indonesia, lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur seperti: meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya ialah menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai mendorong siswa untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan proses otak bekerja serta akhirnya konsentrasi siswa.Lingkungan makro ialah "dunia yang luas." Peserta didik diminta untuk menciptakan ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya. "Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi sistuasi-situasi yang menantang dan semakin mudah Anda mempelajari informasi baru," tulis Porter. Setiap siswa diminta berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan baru dalam lingkungan masyarakat, agar mereka mendapat pengalaman membangun gudang penyimpanan pengertahuan pribadi. Selain itu, berinteraksi dengan masyarakat juga berarti mengambil peluang-peluang yang akan datang, dan menciptakan peluang jika tidak ada, dengan catatan terlibat aktif di dalam tiap proses interaksi tersebut (untuk belajar lebih banyak mengenai sesuatu). Pada akhirnya, interaksi ini diperlukan untuk mengenalkan siswa kepada kesiapan diri dalam melakukan perubahan. Mereka tidak boleh terbenam dengan situasi status quo yang diciptakan di dalam lingkungan mikro. Mereka diminta untuk melebarkan lingkungan belajar ke arah sesuatu yang baru. Pengalaman mendapatkan sesuatu yang baru akan memperluas "zona aman, nyaman dan merasa dihargai" dari siswa.Dalam studi ini, metode quantum learning hanya dipelajari pada tingkatan dasar. Tidak sampai kepada seluk beluk keseluruhannya. Hal ini mengingat tujuan studi adalah pada penyiapan peserta didik pada proses pendidikan jurnalistik. Pendidikan jurnalistik diarahkan pada pembelajaran yang lebih terkait dengan kebutuhan kapasitas lulusan yang mampu memahami beberapa elemen jurnalistik seperti pencarian fakta dan pelaporan berita. Selain itu, juga terkait dengan upaya penerobosan pengajaran yang lebih favorabel dalam ruang kelas atau kuliah.2.3 Kompetensi Profesi JurnalistikKompetensi jurnalistik telah mematok persyaratan kemampuan profesional tertentu. Kitty Yancheff (2000) menilik ukuran profesionalisme jurnalis di era milenium. Menurutnya, pada fase milenium, profesionalisasi wartawan membutuhkan multi-kompetensi. Karakteristik performanya menekankan kekuatan penulisan dan kemampuan oral, ketekunan kerja, dan pemilikan dasar pengetahuan yang mengombinasikan aplikasi lintas-disiplin (penguasaan pelbagai format media cetak, siaran, interaktif dan multimedia) yang dibutuhkan dalam kerja memasok informasi di dunia profesional industri. Untuk itu, ia mengajukan sepuluh kompetensi wartawan profesional yang terdiri dari:Kompetensi-kompetensi penulisan (writing competenciesKompetensi-kompetensi performa oral (oral performance competenciesKompetensi-kompetensi rset dan ivestigatif (rsearch and ivestigative competenciesKompetensi-kompetensi pengetahuan dasar (broad-based knowledge competencies)Kompetensi-kompetensi dasar web (web-based competencies)Kompetensi-kompetensi audio visual (audio visual competencie)Kompetensi-kompetensi aplikasi dasar keterampilan komputer (skills-based computer application competencies)Kompetensi-kompetensi etika (ethics competencies)Kompetensi-kompetensi legal (legal competencies)Kompetensi-kompetensi karir (career competencies)Kompetensi-kompetensi penulisan ialah kapasitas untuk melaporkan secara akurat, jelas, kredibel, dan reliabel. Kemampuan menulis yang mudah dipahami pembaca. Laporan berita bagi suratkabar online memiliki pembaca yang bersifat internasional. Maka itu, kemampuan di sini terkai t juga dengan penguasaan dalam memakai tata bahasa, kata-kata, dan tanda-tanda baca, serta pemahaman terhadap vocabulary. Selain itu, kapasitas menyusun dan menulis paragraf-paragraf lead, kelengkapan data-data sumber berita, dan sebagainya.Kompetensi-kompetensi performa oral ialah kemampuan menyampaikan pengertian, respon yang baik, secara konfiden dan bertanggung jawab. Kemampuan wawancara memerlukan berbagai teknik dan metoda ketika mewawancarai anak-anak, kelompok etnik, korban kekerasan, dan sebagainya. Selain itu, kemampuan mengenali nuansa dari wacana publik.Kompetensi-kompetensi riset dan investigatif ialah kemampuan menyiapkan pelbagai bahan, pengembangan, akurasi kisah atau mengidentifikasi topik-topik potensial; melalui sumber kepustakaan, referensi virtual online, dan catatan-catatan publik.Kompetensi-kompetensi pengetahuan dasar ialah kemampuan memiliki pengetahuan dasar seperti ekonomi, statistik, matematik, sejarah, sains, perawatan kesehatan, bisnis, dan struktur pemerintahan. Dunia kewartawanan mensyaratkan proses belajar seumur hidup, dan keluasan lintas disiplin.Kompetensi-kompetensi dasar web ialah kemampuan menguasai internet, email, mailing lists, newsgroups, dan pemberitaan dalam format on the web. Khususnya pemberitaan yang bersifat breaking news and information, yang memiliki nilai otentisitas, akurasi, dan reliabiliti informasi on the web.Kompetensi-kompetensi audio visual ialah kemampuan menggunakan peralatan seperti kamera 35mm, kamera video, men-scan foto ke dalam komputer, serta audio tape recorder.Kompetensi-kompetensi aplikasi dasar keterampilan komputer ialah kemampuan mengaplikasikan komputer dalam kegiatan melaporkan pemberitaan; seperti: word processing, pengembangan database (terutama bagi investigative reports), dan aplikasi multimedia, termasuk Pagemaker, Quark XPress, and Printshop, dan sebagainya, bagi kerja kewartawanan.Kompetensi-kompetensi etika ialah kemampuan memahami tanggung jawab profesi, seperti: kode etik, konsideran nilai-nilai etika, pelanggaran, dan plagiarisme.Kompetensi-kompetensi legal ialah kemampuan memahami ihwal undang-undang kebebasan berpendapat, seperti yang tercantum dalam the Freedom of Information Act (FOIA), the First Amendment, hak cipta, dan sebagainya. Serta, keterkaitannya dengan tugas-tugas profesi kewartawanan dan dampaknya terhadap masyarakat.Kompetensi-kompetensi karir ialah kemampuan memahami dunia karir profesional di dalam jurnalistik. Kemampuan bekerja di dalam manajemen pers, dan bersikap positif di dalam kerja peliputan. Termasuk aspek-aspek dari komponen manajerial pasar, analisis khalayak, dan producing and editing the news. Serta, keterlibatan dalam pelbagai asosiasi dan jaringan profesional dari dunia jurnalisme.3. MetodologiBerkaitan dengan latar belakang, masalah, dan tujuan studi adalah kajian literatur yang mengetengahkan ihwal model pembelajaran quantum learning dan kemungkinannya bila dikaitkan dengan peraihan kompetensi profesi jurnalistik. Metoda quantum learning akan ditelusuri pada beberapa konsep dasarnya. Tidak keseluruhan metodanya dijadikan sebagai dasar pemikiran bagi konsep pembelajaran jurnalistik. Hal ini terkait dengan fokus studi yang hendak mencoba melihat potensi belajar quantum learning sebagai sarana pencapaian proses belajar yang dapat menghasilkan siswa-siswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang bersifat life skills.Untuk melengkapinya, beberapa kajian teoritik proses belajar dan mengajar dikutip pula sebagai wacana tambahan. Pada kajian jurnalistik, yang dipetik adalah pencapaian yang hendak diraih dari konsep pembelajaran jurnalistik. Karena itu, kompetensi profesi jurnalistik menjadi salah satu alat ukur. Pada beberapa alat ukur, baik di dalam ruang kurikulum jurnalistik maupun di dalam ruang praktek kewartawanan, kerap dimunculkan beberapa unsur, seperti kompetensi penulisan, performa oral, penguasaan alat dan teknis media, pemahaman nilai-nilai etik, dan sebagainya.Kedua wacana literatur itu di dalam pembahasan akan diuraikan. Bagaimana keterkaitan poin-poin dasar dari pengajaran quantum learning dimanfaatkan bagi proses pembelajaran jurnalistik. Bagaimana kompetensi jurnalistik dapat lebih dioptimalkan di dalam proses pembelajaran yang memakai metoda quantum learning. Bagaimana target life skills bagi realitas pendidikan jurnalistik di Indonesia dapat diraih melalui pembelajaran ini.Pelatihan direncanakan menggunakan konsep learning by doing. Para peserta diajak untuk mendalami teori-teori jurnalistik, sebagai dasar pemahaman tentang esensi jurnalistik yang hendak dipelajarinya. Pelbagai teknik jurnalistik yang berkaitan dengan yang dilakukan para pekerja pers, juga disampaikan. Model pembelajaran quantum learning memerikan proses belajar secara menyenangkan, terlibat penuh, tidak linear, dan membekali peserta akan sikap memliki pengetahuan dan keterampilan jurnalistik yang tidak usai di pelatihan.Peserta dimotivasi untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistiknya, serta memanfaatkannya di dalam hidup kesehariannya ketika memasuki ruang-ruang sosial kemasyarakatan. Siswa memiliki kemampuan untuk mempresentasikan pengetahuan dan keterampilan jurnalistiknya bukan hanya di tataran penulis ataupun kerja kewartawanan melainkan juga bagi ruang kehidupan kemasyarakatan lainnya. Siswa dapat, misalnya, memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistiknya bagi pekerjaan pelaporan teks kerja ataupun publikasi dari kegiatan sosial, lembaga kemasyarakatan, atau institusi kerja seperti perusahaan – yang belum memiliki staf kehumasan, misalnya.4. Hasil, Kajian, dan BahasanPengajaran jurnalistik membutuhkan kiat, petunjuk, strategi bagaimana memahami dan mengingat fakta-fakta yang terjadi di dalam peristiwa masyarakat. Peristiwa kemasyarakatan memberikan banyak dimensi dan unsur yang perlu dicatat, dijelaskan, dan dilaporkan secara sederhana. Kesederhanaan pelaporan peristiwa tidak berarti meniadakan kompleksitas persoalan kemasyarakatan yang kini semakin rumit, terkait dengan banyak faktor penyebab. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman peserta didik jurnalistik yang mampu menangkap berbagai dimensi persoalan kemanusiaan.Siswa memerlukan proses pembelajaran yang hasil akhirnya memiliki tiga nilai kompetensi. Pertama, pemahaman dan keterampilan tentang penulisan (writing), performa oral (oral performance), riset dan investigatif (research and investigative), dan pengetahuan dasar (broad-based knowledge) jurnalisme. Kedua, pemahaman dan keterampilan tentang Dasar-dasar web (web-based), audio visual, dan aplikasi dasar keterampilan komputer (skills-based computer application). Ketiga, pemahaman tentang etika (ethics), legal, dan karir (career) jurnalistik. Seluruh proses belajar jurnalistik, membutuhkan ruang-ruang pengajaran yang berisi tuturan materi yang punya daya jelajah terhadap kerangka kehidupan kemasyarakatan dan kemajuannya.Pencapaian kompetensi pengetahuan tentang penulisan, performa oral, riset dan investigatif, dan pengetahuan dasar jurnalistik memerlukan proses belajar-mengajar yang menyenangkan dan efektif. Proses penulisan jurnalistik merupakan proses penyampaian pikiran berbasis fakta. Fakta-fakta didapat antara lain melalui wawancara, riset, investigasi, dan referen pengetahuan umum. Untuk mengarahkan siswa pada pencapaian pengetahuan itu, proses belajar mesti dilaksanakan dalam model pembelajaran tidak sekadar membacakan teks semacam diktat.Kekakuan didaktif pengajaran dapat membuat pengiriman materi menjadi membosankan. Pendidikan jurnalistik memerlukan wacana fleksibel dan keluasan wawasan serta kesiapan mental dalam menjumput rangkaian peristiwa dan menembus berbagai nara sumber berita. Ketegangan kerap dialami wartawan, dari sejak awal peliputan, ketika berhadapan dengan pihak-pihak yang harus diwawancarai. Pendidikan jurnalistik diharapkan telah dapat membimbing siswa untuk berada dalam suasana mental yang nyaman, menyenangkan, dalam memahami tingkat stres dari proses peliputan. Pada sisi inilah, nilai manfaat pengajaran terbentuk dan terakumulasi.Nilai manfaat pengajaran seperti itu dibutuhkan dalam menumbuhkan kapasitas mental dan pikiran siswa yang responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan. Sikap responsif diperlukan peserta didik ketika berhadapan dengan peristiwa atau pihak-pihak terkait yang harus diinvestigasi tingkat kebenaran informasinya. Pasifnya sikap wartawan dapat menyebabkan rendahnya nilai akurasi pelaporan. Hal itu merugikan masyarakat dan mengurangi kredibilitas fungsi jurnalistik sebagai pelapor "kebenaran" persoalan masyarakat.Pelbagai tantangan dalam menggali data dan fakta telah menjadi pola kerja jurnalistik. Tantangan itu terkait dengan karakter jurnalistik yang "membongkar" jalannya peristiwa kemasyarakatan secara tidak biasa. Dari rincian peristiwa sampai berbagai pihak yang terlibat mesti diungkap dengan jelas dan tegas. Kelugasan pelaporan macam ini kerap mendapat tentangan. Oleh karena itu, ruang pengajaran jurnalisme mesti menyiapkan peserta didik yang memiliki ketahanan mental dalam menghadapi tantangan-tantangan jurnalistik.Proses sosial kemasyarakatan tidak berjalan statis. Dinamika konflik, misalnya, di masyarakat mempunyai koneksitas yang tinggi dengan perubahan-perubahan kemasyarakatan. Pelbagai perubahan terjadi oleh pelbagai kepentingan masyarakat sendiri ketika mengembangkan ruang sosial kepada tingkat-tingkat kemajuan peradaban. Dengan demikian, ruang pendidikan jurnalistik harus menyediakan pengajaran mengenai kesiapan wartawan terhadap perkembangan masyarakat yang membawa banyak perubahan di berbagai dimensi unsurnya.Pengajar yang sugestif dibutuhkan agar dapat menstimulir siswanya. Sugesti positif diperlukan peserta didik agar mampu memiliki referensi teori dan praktek jurnalistik. Para siswa dibuat nyaman dan berpartisipasi aktif dalam tiap momen belajar. Kenyamanan psikis diharapkan dapat membuat siswa bergairah untuk memahami teknik-teknik pencarian dan pelaporan berita. Pemasangan musik tentu saja tidak bisa begitu saja disiapkan bagi proses pengajaran pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, yang dapat diacu dalam hal ini ialah mengondisikan siswa untuk merasakan kesenangan tertentu ketika belajar.Melalui proses sugestif, pemercepatan belajar jurnalisme lebih mudah terjadi. Kegembiraan mendorong para siswa menjadi mudah menerima apa-apa yang diberikan pengajar. Kegembiraan tumbuh melalui pengajaran yang mengandung hiburan, permainan, emosi yang sehat, dan cara berpikir positif. Keempat unsur ini berperan penting dalam mengaitkan seluk beluk jurnalisme yang bersifat aplikasi teoritik.Perlu diberikan contoh dalam pengajaran materi penulisan berita. Siswa dibuat lebih enjoy ketika menerima pemahaman mengenai apa yang disebut berita. Sifat berita tidak mudah digambarkan secara linear. Tidak setiap peristiwa bisa diberitakan. Ada unsur-unsur yang disebut news value (nilai berita) yang mensyaratkan sebuah peristiwa dapat dilaporkan kepada masyarakat. Hal ini antara lain yang menyebabkan seorang ahli jurnalistik mendefinisikan berita sebagai peristiwa yang dilaporkan. Karena jika tidak dilaporkan maka peristiwa tersebut belum menjadi berita. Menjabarkan apa yang dimaksud nilai berita, melalui unsur-unsurnya, bukanlah pekerjaan mudah. Perlu perluasan keterangan, disertai contoh-contoh, dalam menerangkannya. Ketika menerangkan, diperlukan upaya pengajaran yang bersifat menghibur, dalam tanya-jawab yang tidak didaktik tapi mengandung simulasi permainan tertentu, dan membawa keterlibatan emotif siswa untuk merasakan apa yang dialami wartawan di lapangan, serta tetap mengajak siswa untuk nalar, logis dalam mengerangka pemahamannya.Menggambarkan unsur proksimitas (keterdekatan), sebagai salah satu unsur nilai berita, tidak hanya digambarkan lewat contoh peristiwa berita. Pengajar perlu menyeleksi contoh berita dari ukuran yang amat serius sampai yang mengandung humor. Sekadar mengambil contoh berita yang sedang aktual, hanya akan membuat kelas menjadi kering. Siswa hanya akan mendapat pemahaman teoritik. Lain halnya, bila disandingkan dengan contoh-contoh berita yang menghibur. Dialog disisipkan, dalam proses tanya-jawab, yang mensimulasikan gambaran realitas bila siswa berada dalam situasi riil kewartawanan di lapangan. Dengan mengajak mereka merasakan benar bagaimana memilih angle peristiwa keseharian yang bisa dijadikan berita. Suasana afektif tumbuh dengan cara pengajaran seperti ini. Keterlibatan emotif siswa terdorong. Pada saat inilah, pengajar memasukan cara berpikir siswa ke arah penemuan apa yang dimaksud proksimitas. Penalaran siswa diajak larut ke dalam wacana riil yang ia sendiri temukan, sesuai dengan kerangka pemahaman yang disodorkan pengajar.Bahasa menjadi sarana bertukar pikiran yang lebih mendalam daripada sekadar kerangka teks buku-buku acuan. Hidupnya suasana kelas terbangun dengan sendiri melalui bahasa yang tercipta dalam proses two way communication. Tidak searah hanya dari bahasa si pengajar. Situasi behavioral pun ikut terbangun dalam proses komunikasi pengajaran ini. Tindakan-tindakan postif, yang sesuai dengan kerangka silabi materi perkuliahan, tercipta. Logika siswa terpaut dengan perilaku belajar yang diminta pengajar ketika kesamaan pikiran tercipta. Proses enkoding siswa dalam menyerap pesan tidak dihalangi oleh barier ataupun noise. Kesalahan persepsi dan kesalahan penafsiran selama pengajaran berlangsung tidak terjadi.Siswa menemukan sendiri gaya belajarnya. Aspek-aspek penting neurolinguistik tumbuh dalam proses pengajaran ini. Mereka berpartisipasi aktif dalam menemukan pemahaman tentang materi yang diajarkan. Pengajar hanya menjadi seorang tutor. Ia hanya menjadi pengarah kerangka berpikir peserta didik. Jurnalistik memerlukan hal ini. Pekerjaan jurnalistik menekankan kemandirian. Tiap proses kegiatan jurnalistik diiming-imingi hasil prestasi individual. Dalam merancang tampilan halaman koran, misalnya, dibutuhkan kreatifitas individu yang paham tentang fungsi garis, ruang kosang, ilustrasi menarik, ataupun pemasangan foto-foto. Jika ia tidak menemukan sendiri logika kerja seorang layouter, ia hanya akan memasang-masang tampilan desain yang kaku atau tidak menarik. Pengajaran memang harus menerakan pelbagai hal tentang aturan teknis mendesain. Akan tetapi, pemahaman siswa untuk bekreasi dan berinovasi menjadi target pengajaran jurnalistik.Metode quantum learning, yang mengutip rumus E = mc2 dan mengamsalkan tubuh pelajar "adalah materi", hendak membuat peserta didik menghasilkan "energi cahaya" pencerahan bagi dirinya sendiri. Ini sesuai dengan wacana jurnalistik.Proses belajar jurnalistik terpola kepada bangunan pemaparan yang interaksional dan inspiratif, serta hubungan-hubungan yang "mencerahkan" wacana siswa. Mental set peserta didik diarahkan ke dalam bentuk yang tidak hanya memfotokopi materi-materi pengajaran, melainkan lebih ditujukan kepada pembentukan mental set yang terbuka terhadap kemajuan masyarakat. Dengan begitu, dibutuhkan bangunan mental dan penalaran yang kapabel dalam mengembangkan intelektualitas. Akselerasi modernitas, yang kian cepat menemukan kecanggihan teknologi, memerlukan kredibilitas pekerja media dalam menentukan sikap dan pemikiran. Tidak setiap temuan teknologi mesti diserap dan diaplikasikan di dalam kegiatan jurnalistik, tapi tidak setiap temuan teknologi ditolak.Gabungan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP, dari quantum learning, maka itu, punya nilai kecocokan dengan strategi pembelajaran jurnalisme. Termasuk pemakaian konsep-konsep kunci dari strategi belajar seperti teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.Kekuatan pikiran adalah ciri penting para pekerja jurnalistik. Melalui metode quantum learning, para siswa jurnalistik diajak mengenali kekuatan pikiran yang seperti "spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan cara yang menyenangkan dan bebas stres". Hal ini terkait dengan area reportase jurnalistik. Wartawan mesti memiliki kecerdasan dalam menyerap berbagai fakta. Tiap peristiwa berita dicatat wartawan. Catatan wartawan menampilkan deskripsi fisikal dari peristiwa yang dipersepsinya. Kerumitan membahasakan peristiwa ke dalam pelaporan berita mesti dikerjakan dengan perasaan yang menyenangkan, tidak di bawah ketegangan. Selain itu, kesiapan diri yang dengan wajar menerima berbagai tanggapan dari lingkungan, sebagai umpan balik, adalah kebiasaan yang mesti dipelajari sejak dari masa pembelajaran.Pada keseluruhan hidup kewartawanan ditegaskan tentang perlunya untuk mau belajar secara terus-menerus. Kegagalan dalam menembus sumber berita bukanlah akhir dari segalanya. Keyakinan untuk tidak mudah menyerah mesti menjadi alat pendorong dan pendamping jurnalis dalam menapak karirnya.Model pembelajaran quantum yang mendorong peningkatan kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intarpersonal, dan intuisi, amatlah diperlukan. Ini terkait dengan upaya mendorong siswa memiliki keterampilan tentang web-site, audio visual, dan aplikasi dasar komputer.Sifat pembelajaran skills ini bukan hanya bersifat tuturan teknis penggunaan alat kamera atau komputer. Dengan dasar pengenalan siswa sendiri terhadap peningatkan kecerdasan, proses pembelajaran akan lebih mudah. Penjelasan akan menyangkut pentingnya kreatifitas dan inovasi dalam mengaplikasikan teknik-teknik teknologi jurnalisme yang kian kini kian canggih. Pentingnya kreatifitas terkait dengan pekerjaan seperti merancang web-site, misalnya, yang penuh dengan hitungan tidak hanya menariknya tampilan situs atau indahnya tangkapan kamera.Dari sana, siswa dididik untuk mengenali bagaimana proses kecerdasan diasah. Bagaimana intelektualitas indvidu jurnalistik mengembangkan fungsi motor sensorik, emosional-kognitif, dan kecerdasannya. Bagaimana proses berpikir logis, sekuensial, linear dan rasional akan ditemukan melalui kegiatan seperti menulis, membaca, dan menempatkan detil dan fakta serta simbolisme. Bagaimana menajamkan proses berpikir yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik, melalui kegiatan seperti mendengarkan musik dan melakukan aktifitas kreatif. Akhirnya, siswa menemukan rangkaian pola pemilikan emosi yang positif, dari kekuatan nalar, keberhasilan, dan kehormatan diri, di dalam hidup kewartawanan. Tahu bagaimana mendapatkan cara menumbuhkan motivasi, minat, dan sikap untuk belajar aktif. Sikap mau belajar apa saja dari setiap situasi, untuk pengembangan diri, serta selalu mengusahakan terlaksananya tugas-tugas yang diberikan institusi kerja jurnalisme, sebagai bagian dari visi kehidupan kewartawanan.Pada titik ini, diharapkan siswa mendapatkan pemahaman yang esensial tentang etika, legal, dan karir jurnalistik. Nilai-nilai etik merupakan nilai-nilai yang bersifat abstrak. Ia hanya dikenali ketika berhadapan dengan realitas persoalan kemasyarakatan. Masalah etis dan tidak-etis bukan hanya menyangkut soal kesopanan bersikap dan berperilaku. Ini menyangkut kehormatan diri dalam memakai label statur dari profesi kewartawanan.Pelanggaran hukum merupakan lanjutannya. Ketika data-data dari nara sumber sengaja disembunyikan, pemahaman tentang hukum amatlah diperlukan. Di hadapan hukum, wartawan tidak punya kekebalan. Jika ia dengan sengaja mencuri data-data dari nara sumber maka tindakan itu masuk ke dalam tindak pencurian: profesi kewartawanannya tidak dapat menjadi pembelaan sebagai pencari kebenaran.Tatkala menemukan keberhasilan di dalam melaksankan tugas-tugas kewartawanan, tanpa cacat etika dan hukum, ia pun mesti telah dapat mengukur peningkatan jenjang karirnya. Berbagai asosiasi dan organisasi kewartawanan merupakan sarana untuk menunjukkan kehormatan diri atas berbagai keberhasilan yang telah dicapainya.Proses belajar-mengajar jurnalistik mesti menerangkan dengan tuntas ihwal semua itu. Ruang belajar yang efektif untuk menjelaskannya ialah ruang yang tidak membuat siswa pasif, amat tergantung kepada pengajar, dan terpuruk dalam sikap rendah diri. Metoda quantum akan menyentuh para siswa untuk beremosi positif, berpikir jernih, dan memiliki keyakinan untuk berhasil melaksanakan pelbagai kegiatan jurnalistik.5. Simpulan dan Saran5.1. SimpulanDari pemaparan pembelajaran quantum learning di dalam pendidikan jurnalisme, kita menemukan penciptaan peserta didik yang mengenali cara mengembangkan life skills jurnalistik sebagai bagian dari kapasitas diri dalam berinteraksi dengan masyarakat. Efek life skills ini menjadi bagian dari dirinya sendiri.Pembelajaran yang dialaminya, selama pendidikan, telah membentuk sikap, pemikiran, dan perilaku diri yang tidak cuma lulus hapalan tekstual. Siswa bukan hanya berhasil, dan mendapat sertifikasi pelulusan, dengan angka-angka indeks prestasi akumulatif yang dipersyaratkan. Akan tetapi, lebih dari itu, siswa menjadi tahu kemampuan dirinya, mampu menggunakan kemampuannya, serta siap mengembangkan kemampuannya di dalam kehidupannya sendiri.Hal ini menyentuh dua manfaat bagi proses pendidikan. Pertama, setelah totalitas individu siswa dilibatkan secara penuh di dalam proses belajar, ia dapat mengembangkan dirinya untuk belajar aktif secara otodidak. Ia telah diberi bekal yang mendasar untuk mengembangkan diri dalam proses belajar sendiri. Ketika kondisi sosial-ekonominya tidak mampu untuk melanjutkan studinya, ia dapat bertahan dari ketidakpercayaan diri menghadapi persyaratan kelembagaan kerja masyarakat. Ia tidak perlu memaksakan diri untuk masuk ke bidang akademik dari kelembagaan formal institusi pendidikan.Keyakinannya akan kemampuan diri dapat pula mengarahkan wacana kegiatan hidupnya di dalam area yang positif. Ia dapat menolak ajakan-ajakan negatif lingkungannya. Ia tidak terjebak frustasi lingkungan yang kehilangan keyakinan untuk berinteraksi dengan tuntutan kapasitas sumber daya manusia yang siap kerja, menuntut sertifikasi ijazah, maupun referen-referen kemampuan kerja lainnya.Kedua, ketika standar mutu dan globalisasi ditetapkan masyarakat, ia pun masih dapat menjawab tantangannya. Metode quantum learning, dalam proses pengajaran jurnalistik yang diikutinya, memberi nilai akhir lulusan pada kekuatan individu. Setiap siswa dibekali kesiapan untuk mau belajar dengan tantangan dan peluang yang ada, tidak terpuruk dalam ketidakyakinan berakselerasi dengan persyaratan mutu dan globalisasi dari kemajuan masyarakat. Bekal pemilikan pengetahuan dari pembelajaran jurnalistiknya memiliki nilai representatif bila disajikan di hadapan petugas-petugas institusi mutu dan globalisasi. Penanaman sikap dan perilaku belajar aktif, yang ditempa dalam pengajaran jurnalistik bermetoda quantum learning, merupakan kapasitas yang tidak akan mudah menyerah untuk ditantang persaingan kerja kompetitif.5.2. SaranModel pembelajaran ini membutuhkan ruang dan waktu pengajaran yang khusus. Khusus dalam arti, prasarana dan sarana pendidikan yang cukup representatif bagi pemotivasian siswa ke dalam ajakan pembelajaran. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang matang. Selain itu, kesiapan kelembagaan dalam mengolah proses pembelajaran yang optimal di tiap tahapnya.Pada sisi lain, kesiapan ruang sosial masyarakat pun perlu dibina. Pengajaran jurnalistik yang hanya siap di unsur kelembagaan pendidikan akan menjadi sia-sia jika kelembagaan kerja (pelbagai lembaga media massa) masih diganduli tradisi senioritas, primordial, dan berbagai sikap negatif lain yang menghambat proses pengembangan individu muda dalam berkarir.
--------------------------------------------------------------------
Pustaka
AcuanEducational Policies Commision, 1938, The Purpose of Educational in American Democracy, N.E.A.Hendricks, Pat, 1999, Incorporating Developmentally Appropriate Learning Opportunities to Assess Impact of Life Skill Development; Washington State University, http://ext.wsu.edu/lifeskills/history.htmIrby, John, 2001, americanpressinstitute.org, January 03, 2001, copyright ©2001 American Press Institute: Originially published in the September, 2000 issue of the American Society of Newspaper Editor's The American Editor magazine.Yancheff, Kitty, 2000, The Professional Journalist of the New Millennium, Information Competencies For The Journalism Professional, Humboldt State University Library, Journalism;This page was last checked/updated: January 27, 2000, http://library.humboldt.edu/~ccm/.Otto, Henry J. et.al., 1955, Principles of Elementary Education, New York: Rinehart an Co.Porter, Bobbi De, & Mike Hernacki, 1992, Quantum Learning, Bandung: Mizan; diterjemahkan oleh Alwiyah A., dari "Quantum Learning: Unleashing The Genius In You", 1992, New York: Dell Publishing.Suryadi, Ace, 2002, Memahami 'Life Skills', MEDIA INDONESIA online, Rabu, 13 Februari 2002, (http://www.mediaindo.co.id/cetak/rubrik.asp?rubrik=op&edisi=13/2/2002Thumbany, Syamsul Hadi, 2001, Menguatkan "Life Skill" dengan Modal Sosial, KompasCybermedia, Senin, 29 Oktober 2001; http://www.kompas.com/kompas-cetak/0110/29/dikbud/meng09.htm

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda